Mengupas Jakarta Smart City

Bayangkan sebuah kota metropolitan berjalan tanpa pengawasan dari pemerintahnya. Bukan hanya ketidakteraturan dalam tatanan kehidupan yang menanti, namun ancaman tentang sesuatu yang buruk pun dapat dengan mudah terjadi. Untuk itu, diperlukan sebuah sistem pengawasan terpadu yang dijalankan oleh sebuah pemerintah kota agar warganya dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan nyaman.

Jika dulu pengawasan dilakukan secara manual atau mengandalkan personel keamanan, namun berkat kecanggihan teknologi, kini kegiatan pengawasan sebuah lokasi dapat dijalankan dengan kamera CCTV. Selain mempermudah, kamera CCTV dianggap lebih efektif dan memiliki fungsi yang lebih ‘lengkap’ dibanding tenaga pengawas manusia.

Atas dasar itulah, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membangun sebuah sistem pemantauan secara terpadu dan terintegrasi yang diberi nama Jakarta Smart City (JSC). Konsep JSC sendiri dicanangkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, yang kemudian diluncurkan pada akhir 2014. Pria yang akrab disapa Ahok ini menginginkan

Jakarta menjadi kota pintar atau smart city yang mengandalkan kecanggihan teknologi untuk mengatasi segala kondisi seperti banjir, macet, serta penanganan kejahatan.

“Waktu itu, JSC belum terbentuk secara keseluruhan, baru di tahun 2015 dibentuk sebuah unit pengelola Jakarta Smart City. Tugas mereka adalah mengelola dan merencanakan seluruh tugas pokok dan fungsi JSC dalam menciptakan Kota Jakarta yang lebih modern sekaligus manusiawi,” Setiaji, Kepala Unit Pelayanan Jakarta Smart City, menjelaskan.

Setiaji mengatakan, selama kurun waktu satu tahun (2015) unitnya bekerja untuk mengintegrasikan seluruh data yang berkaitan dengan ruang publik, termasuk seluruh kamera CCTV yang dimiliki semua instansi di bawah Pemprov DKI dan beberapa dari instansi lainnya seperti Kepolisian atau TNI dan pihak swasta. Seluruh data tersebut kemudian digunakan untuk kegiatan pemantauan dan sebagian bisa diakses oleh masyarakat.

Kamera CCTV ini akan dipasang di tempattempat rawan keamanan, jalan protokol, lokasilokasi vital, taman-taman milik Pemprov DKI, dan lingkungan kantor pemerintahan seperti kelurahan dan kecamatan.

Hingga awal Mei 2016 lalu, kamera CCTV yang terkoneksi dengan program JSC sudah berjumlah 1.714 buah. “Kalau sudah terkoneksi jadi bisa langsung dipantau oleh instansi seperti Dinas Perhubungan dan Dinas Tata Air. Mereka juga langsung mengontrol secara mandiri,” lanjut Setiaji. Sementara itu, Unit Pengelola Jakarta Smart City secara langsung dapat memantau kamera-kamera lainnya di ruangan Command Center di Smart City Lounge, yang terletak di lantai 3 Blok B Gedung Balai Kota Pemprov DKI Jakarta.

 

 

Command Center Jakarta Smart City

 

BENTUK INTEGRASI KAMERA CCTV

Setiaji menjelaskan, seluruh kamera CCTV yang digunakan untuk program Jakarta Smart City tidaklah terpatok pada merek tertentu, melainkan dilihat dari fungsinya. “Misalnya, kamera CCTV harus berkualitas HD dan berbasis IP, jadi bisa diintegrasikan dengan sistem yang sudah dibuat JSC.”

Jakarta Smart City Lounge
 

Kamera-kamera CCTV tersebut, menurut Setiaji bukan seluruhnya milik Pemprov DKI. Sejumlah 1.400 buah adalah hasil donasi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan penyedia layanan telekomunikasi seperti di antaranya ada Bali Tower, IBS, dan lainnya. “Malah hingga akhir tahun ini kami targetkan akan bertambah hingga 4.000 buah CCTV.”

Hal krusial agar ribuan video pemantau tersebut bisa berjalan dengan baik dan maksimal adalah sistem integrasinya. Setiaji menjelaskan bahwa langkah integrasi menjadi tantangan tersendiri karena ribuan kamera CCTV ini

“Jadi pada prinsipnya unit Jakarta Smart City akan memonitor dan bisa mengendalikan kondisi lokasi yang telah dipantau oleh CCTV yang terpasang.”

 


 

 

 

 

 

 

 

terdiri dari berbagai merek. Selain itu, dengan integrasi, setiap fitur yang terdapat di kamera bisa dimaksimalkan seperti video analisis. Setiaji juga berharap nantinya akan ada platform khusus yang bisa menggabungkan beberapa sistem dari merek yang berbeda.

Fitur video analisis menjadi penting, sebab bisa digunakan untuk menganalisis sebuah peristiwa penting, maupun pelanggaran yang terjadi sehari-hari. Misalnya, nanti kamera-kamera CCTV ini bisa dengan mudah menganalisis identitas orang-orang yang dianggap mencurigakan dengan menggunakan teknologi pengenalan wajah (face recognition) atau mendeteksi pelat nomor polisi kendaraan menggunakan teknologi License Plate Recogniton (LPR). Bahkan pada beberapa objek dan lokasi penting, akan dipasang kamera CCTV berjenis PTZ (pan, tilt, zoom) dengan tambahan sistem video analisis. Kemudian, hal penting lain dari sistem kamera CCTV yang terkoneksi dengan program Jakarta Smart City adalah perekamannya. Setiaji menyampaikan, saat ini tersedia server khusus yang mampu merekam gambar hingga tiga hari. Mengenai personel yang memantau

langsung layar besar di Command Center, sekarang baru ada tujuh orang dan belum memiliki shift kerja 24 jam. “Setelah lounge Jakarta Smart City ini resmi diluncurkan berbarengan dengan HUT Kota Jakarta nanti, barulah akan ada personel yang memonitor selama 24 jam penuh.”

Kemudian, perawatan seluruh kamera CCTV ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pihak penyedia. Tak hanya itu, mereka juga wajib menyediakan bandwidth tertentu agar tim Jakarta Smart City dan masyarakat bisa dengan lancar memantau gambar dari kamera pengawas.

Untuk ke depannya, unit Jakarta Smart City juga tengah menyiapkan rencana penempatan panic button, baik dalam bentuk fisik maupun aplikasi di perangkat seluler. Hal ini dimaksudkan agar Pemprov DKI dapat lebih responsif menangani keluhan warganya.

“Tentunya kami juga berharap ada kepedulian seluruh warga Jakarta agar tidak merusak kamera CCTV yang telah terpasang, agar kepentingan bersama ini tetap berfungsi maksimal.”

 

 

Vol.1 Edisi Juni - Agustus 2016

Hal 28-30

Baca Juga

© 2019 Indo Security System. All Rights Reserved.