Indo Security System
Fungsi Business Intelligence Pada CCTV Untuk Ritel

Fungsi CCTV sebagai perangkat keamanan sepertinya sudah tidak perlu dijelaskan lagi. Pada awalnya, CCTV diciptakan untuk memonitor saat proses peluncuran roket keluar angkasa. Namun saat ini CCTV sudah berkembang sebagai perangkat keamanan yang paling populer di masyarakat. Di samping kesadaran masyarakat yang semakin baik mengenai keamanan, penurunan harga dan juga disertai dengan peningkatan kualitasnya semakin membuat CCTV terpasang di mana-mana.

Apakah CCTV Dapat Difungsikan Selain Untuk Keamanan?

Sebelum dijelaskan lebih lanjut, ada baiknya untuk mengubah sedikit sudut pandang tentang CCTV itu sendiri, yaitu dari fungsinya sebagai alat keamanan menjadi suatu alat sensor berbasis gambar. CCTV dalam menjalankan tugasnya sebagai alat sensor gambar dapat diibaratkan sebagai sebuah mata.

Apabila mata tersebut dipasang ke petugas keamanan (satpam) maka mata tersebut akan sangat membantu dalam menjaga keamanan. Namun jika mata ini dipasangkan pada seorang pegawai pemasaran, tentu hal tersebut dapat digunakan untuk melihat sekaligus menganalisis hal-hal yang berhubungan dengan penjualan. Selain itu, bila mata tersebut dipasangkan pada seorang teknisi maka diharapkan mata tersebut dapat membantu dalam menyelesaikan masalah teknis.

Dengan melihat sudut pandang kamera CCTV sebagai sebuah sensor gambar, maka akan terjadi banyak sekali potensi lain dari fungsi CCTV. Salah satunya adalah sebagai alat bantu dalam penggunaan sistem business intelligence di dalam perusahaan. Business inteligence yang dimaksud di sini adalah suatu teknik ataupun alat yang digunakan untuk mentransformasi data mentah menjadi suatu informasi yang berguna untuk melakukan analisa bisnis.

                                

Seperti yang sudah dijelaskan pada edisi sebelumnya mengenai video analitik, saat ini fungsi analitik pada perangkat CCTV sudah dapat menghasilkan metadata dari suatu gambar. Sehingga gambar yang diterima oleh perangkat CCTV dapat diubah menjadi informasi yang berguna dan dapat dianalisis lebih dalam. Pada dasarnya, video analitik merupakan perangkat lunak yang membantu fungsi pengawasan melalui video dalam mengidentifikasi berbagai atribut, peristiwa atau pola perilaku tertentu dari lingkungan yang sedang dipantaunya. Perangkat lunak ini membuat memungkinkan pengguna untuk menganalisis, mengatur, dan berbagi wawasan yang diperoleh dari data video sehingga dapat membuat keputusan yang lebih cerdas dan lebih baik. Karena kemampuan inilah, penggunaan CCTV mulai dieksploitasi secara komprehensif untuk mengumpulkan dan mengelola informasi untuk keperluan business intelligence dengan tujuan akhir untuk meningkatkan efisiensi pemasaran ataupun operasional perusahaan yang akan berdampak pada pertumbuhan bisnis.

Solusi Untuk Sektor Ritel

Salah satu industri yang mendapatkan manfaaat besar dari hadirnya video analitik adalah di sektor ritel. Sebuah laporan dari Allied Market Research mencatat bahwa pasar video analitik global bernilai US$ 3,1 miliar pada tahun 2017 dan diproyeksikan mencapai US$ 14,4 miliar pada tahun 2025 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 21,4 persen. Penggunanya telah didominasi oleh ritel dan diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan yang signifikan selama periode tersebut. Pertumbuhan di sektor ini terutama disebabkan oleh peningkatan kebutuhan untuk memantau perilaku konsumen, kriteria pembelian dan pola pemilihan produk.

Paling tidak, ada tiga fungsi video analitik yang tersedia pada kamera CCTV saat ini yang tidak hanya meningkatkan keamanan dan kewaspadaan situasional, tetapi juga dapat diaplikasikan sebagai penunjang business intelligence yang berharga. Fungsi video analitik dalam sistem CCTV yang dapat dimanfaatkan untuk business intelligence antara lain face recognition (pengenalan wajah), people counting dan heat mapping. Berikut sedikit penjelasan mengenai ketiga fungsi analitik tersebut:

- Face Recognition

Selain mengenali identitas spesifik manusia, pengenalan wajah ternyata dapat menjadi alat business intelligence tepat guna. Dalam lingkungan ritel, fungsi ini dapat mengumpulkan demografi pelanggan dan pola perilaku dengan melacak bagaimana pelanggan perempuan dan laki-laki dan juga secara umur bergerak di dalam sebuah toko. Di mana mereka cenderung berlama-lama di salah satu sudut toko, atau produk apa saja yang kerap menarik perhatian. Dalam hal ini, perangkat lunak tidak perlu mengidentifikasi individu secara detail, tetapi cukup dengan memberi tahu klasifikasi para pengunjung berdasarkan gender dan umur.

Perangkat lunak pengenalan wajah dapat diintegrasikan dengan sistem pemasaran yang disesuaikan untuk pelanggan. Data agregat yang dikumpulkan selama periode waktu tertentu memberi pemahaman yang jauh lebih baik tentang bagaimana tata letak toko mempengaruhi tingkat penjualan dan kunjungan konsumen. Berdasarkan hal itu pula, penggunanya dengan mudah melakukan perbaikan yang diperlukan dengan mengevaluasi data.

- People Counting

Sementara itu, untuk mengetahui berapa banyak orang mengunjungi dan yang membeli di toko setiap harinya dapat diketahui berdasarkan data people counting. Memahami arus lalu lintas pelanggan adalah faktor penting bagi hampir semua bisnis ritel. Jumlah dan arus lalu lintas konsumen di dalam toko juga menjadi faktor penting bagi manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan pemasaran. Di sinilah peran fungsi analitik people counting secara terperinci memberikan informasi tentang arus lalu lintas di dalam area yang sudah ditentukan, seperti toko, mal atau pusat perbelanjaan lainnya.

Ditambah lagi, fungsi analitik ini juga dapat digunakan untuk menghasilkan laporan tingkat kunjungan pelanggan yang akan membantu manajemen membuat keputusan bisnis yang lebih baik. Lalu ketika fungsi ini terintegrasi dengan sistem point-of-sale (PoS), sistem ini dapat mengumpulkan informasi berharga tentang tingkat kunjungan di toko secara andal. Hal tersebut dapat dijadikan tolok ukur untuk membuat keputusan bisnis pemasaran dengan cepat.

- Heat Mapping

Untuk mengidentifikasi kinerja sebuah toko juga dapat menggunakan fungsi heat mapping melalui CCTV. Fungsi ini berguna untuk mendeteksi area yang paling banyak dikunjungi atau dilewati orang. Secara gamblang, fungsi analitik ini akan mengidentifikasi pengunjung berdasarkan hotspot, di mana area yang paling banyak dikunjungi atau dilewati orang ditandai oleh sebuah matriks dengan grafis merah mencolok. Sedangkan untuk daerah yang sepi kunjungan atau pembelian akan ditandai sebagai zona dingin.

Dengan data tersebut, manajer pemasaran dapat mengidentifikasi produk mana yang paling menarik perhatian di etalase toko dan mana yang tidak, sehingga memberikan wawasan strategis yang kuat untuk memutuskan penempatan sebuah produk. Selain itu, dengan mengetahui beragam titik hotspot juga akan membantu pemahaman untuk penempatan iklan dengan tepat guna mengoptimalkan promosi di toko tersebut.

Lebih dalam lagi, penggunaan business intelligence tidak hanya bersandar pada ketiga fungsi analitik ini. Beberapa produsen global bahkan telah mengembangkan kemampuan dari fungsi analitik yang disebut di atas untuk meningkatkan pengalaman belanja dan loyalitas pelanggan, serta memperluas basis pelanggan. Misalnya, untuk pengenalan wajah tidak lagi hanya mengklasifikasikan jenis kelamin ataupun usia pengunjung tetapi mulai ditingkatkan dengan kemampuan deteksi senyum dan deteksi bola mata.

Sistem pendeteksi senyum adalah cara untuk mengenali emosi dari pelanggan terhadap produk maupun promosi pemasaran yang ada. Ini juga membantu sebuah toko ritel memahami bahwa produk dan layanan seperti apa yang diminati pelanggan dan akan membantu menghemat waktu dalam membangun strategi. Deteksi senyum bekerja dengan cara mendeteksi wajah dan kemudian menganalisis berbagai fitur wajah. Saat subjek tertangkap sedang tersenyum, maka kamera akan mengenali perubahan pada wajah dengan mengidentifikasi raut wajah, termasuk mata menyipit, gigi terlihat, sudut mulut melebar dan pipi terangkat.

Sementara, deteksi bola mata akan membantu memahami jumlah pelanggan yang melihat promosi di dalam toko. Ini akan membantu ritel memahami apakah tampilan sebuah toko dalam mempromosikan produk atau layanan tertentu sudah cukup kuat untuk menarik perhatian pelanggan. Sistem ini dapat bekerja bersama-sama dengan algoritme deteksi senyum untuk mengoptimalkan strategi pemasaran dan promosi yang dikehendaki.

Kecanggihan lainnya dari fungsi video analitik ini juga sudah sampai pada object recognition, yaitu kemampuan sistem untuk mengidentifikasi barang belanjaan saat di jalur pembayaran kasir. Dalam fungsi ini, kamera bertugas mengenali tiap objek belanjaan yang berada dalam keranjang bawaan konsumen tanpa perlu memindai barcode. Namun agar lebih pastinya, metode ini tetap membutuhkan verifikasi kasir untuk menyelesaikan transaksi. Ini akan memastikan barang yang dibawa sesuai dengan yang dibayarkan.

Dengan fungsi-fungsi di atas, kebutuhan analisis pelanggan sebagai upaya meningkatkan pendapatan bukan lagi hal yang sulit dilakukan oleh bisnis ritel. Hal ini juga bukan lagi menjadi komponen nilai tambah dalam infrastruktur, tetapi mulai dianggap sebagai bagian yang tak terhindarkan dari setiap toko ritel untuk meningkatkan pendapatan dengan cara memanfaatkan analisis secara proaktif.

Analisis dari business intelligence pada CCTV dapat digunakan untuk mengoptimalkan pengawasan kepada staf toko. Hal ini diperlukan untuk mengenali segala aktivitas yang dilakukan pegawai dan membantu mengukur kinerja toko selama jam sibuk. Penempatkan posisi staf di lingkungan toko dengan tepat akan meningkatkan pelayanan terhadap pengunjung dengan lebih baik. Jadi ini memungkinkan mengelola tenaga kerja secara efektif dan memungkinkan mengidentifikasi segala kekurangan yang ada dalam sistem, serta dapat segera mengatasinya bila terjadi kendala.

                                      

Hingga di sini dapat disimpulkan bahwa industri ritel atau pusat perbelanjaan membutuhkan banyak data yang dapat ditindaklanjuti untuk menguntungkan mereka. Data yang dianalisis dan diolah dengan benar akan membantu tim pemasaran membuat keputusan berdasarkan informasi yang menghasilkan manfaat di seluruh toko ritel. Perusahaan juga semakin mudah untuk membuat keputusan bisnis ketika hal-hal seperti tren, pola lalu lintas di toko, perilaku pelanggan, dan lainnya dapat diketahui. Fungsi-fungsi video analitik pun dapat dipergunakan untuk mengekstrak data yang relevan tersebut agar tercipta peningkatan efisiensi operasional. Dari penjelasan di atas, berikut beberapa manfaat dari business intelligence menggunakan CCTV pada sektor ritel:

- Mengidentifikasi Zona Panas dan Dingin

Penerapan business intelligence di dalam toko ritel akan dapat memetakan zona panas dan dingin di dalam toko. Zona panas adalah area di mana orang sering berhenti menghabiskan waktu dan berbelanja. Sedangkan zona dingin merupakan area di mana lebih sepi pengunjung ataupun area di mana penjualan yang terjadi tidak konsisten. Dengan melakukan identifikasi tersebut, maka para pebisnis ritel akan dapat membuat strategi bisnis yang lebih baik dengan menata ulang layout toko atau dengan menempatkan hal yang menarik perhatian di zona dingin guna mengundang pengunjung untuk masuk ke zona tersebut.

- Memahami Perilaku Pelanggan

Selain memetakan zona, fungsi video analitik pada toko ritel akan dapat memberikan informasi terhadap perilaku pelanggan di dalam toko. Layout penyusunan produk di dalam suatu lorong toko, penempatan produk yang saling berhubungan dalam rak yang berdekatan ataupun keranjang barang promosi diletakkan di depan atau di belakang, akan dapat diukur efektivitasnya oleh peritel. Dengan melakukan perubahan layout yang kemudian dilakukan pemonitoran terhadap efektivitasnya, maka peritel akan dapat menentukan layout toko terbaik, sesuai dengan perubahan perilaku pelanggan berdasarkan hasil analisis data dari CCTV.

- Meningkatkan Layanan Pelanggan

Informasi yang diperoleh dari proses video analitik akan dapat diketahui secara jelas kapan periode tersibuk di dalam toko, baik dalam hitungan jam, hari atau bulan. Dengan mengetahui informasi tersebut maka peritel akan dapat menyeimbangkan sumber daya manusia untuk melayani pelanggan di waktu ramai, dan menggunakan saat sepi sebagai waktu istirahat bagi karyawan sehingga ketika toko dalam keadaan ramai para karyawan dapat memberikan pelayanan yang terbaik. Atau dalam kasus tersentu, dengan mengetahui kapan waktu tersibuk dan waktu sepi pengunjung, peritel dapat menerapkan strategi bisnis tertentu untuk meningkatkan jumlah pengunjung pada jam tidak sibuk, sehingga dapat memaksimalkan pendapatan dari toko tersebut.

- Meningkatkan Manajemen Antrean

Melalui pemantauan di area kasir, maka video analitik dapat menginformasikan apabila pada suatu jalur antrean untuk melakukan pembayaran sudah terlalu panjang, sehingga pihak peritel dapat memutuskan untuk membuka loket pembayaran yang lainnya agar antrean menjadi tidak terlalu panjang. Tidak sedikit orang yang membatalkan pembelian dikarenakan antrean yang sudah terlalu panjang. Dengan mengetahui kapan harus membuka loket kasir baru, maka akan dapat mengurangi potensi kehilangan penjualan akibat konsumen yang batal membeli.

- Mencegah Kerugian

Fungsi CCTV untuk mencegah pencurian oleh konsumen mungkin sudah menjadi hal yang wajar. Namun ternyata video analitik juga dapat digunakan untuk mencegah pencurian yang dilakukan oleh karyawan toko, misalnya oleh staf bagian kasir. Pada beberapa kasus, pencurian dapat dilakukan melalui kerja sama antara kasir dengan pembeli. Hal ini dapat dilakukan kasir dengan memasukkan harga yang tidak sesuai dengan barang yang dibeli. Kasir akan memasukkan harga yang lebih murah daripada yang seharusnya dibayarkan oleh pembeli dengan menuliskan tipe barang yang berbeda dari yang seharusnya.

Dengan menggabungkan video analitik dengan mesin PoS, maka peritel dapat membandingkan jenis barang yang dibeli dengan jenis yang dimasukkan oleh kasir ke mesin PoS. Proses ini dapat dilakukan secara manual dengan menempatkan orang untuk memantau CCTV dan mesin PoS dari ruangan pusat kontrol. Atau dapat juga dilakukan secara otomatis yaitu dengan ‘mengajarkan’ kamera CCTV untuk mendeteksi benda apa yang dibeli oleh konsumen kemudian membandingkannya dengan jenis yang dimasukkan oleh kasir ke mesin PoS. Penerapan hal ini diyakini dapat menekan tingkat kerugian peritel akibat kehilangan barang karena kasus pencurian ataupun akibat kerja sama antara pembeli dengan pihak kasir.

Vol. 21 Edisi Desember 2019 - Januari 2020

Baca Juga

© 2019 Indo Security System. All Rights Reserved.